Selasa, 29 Oktober 2013

cerpen

SEPERTIMU KAWAN
                “Allahuakbar.. allahuakbar..”  suara adzan telah berkumandang, sekaligus membangunkan dari tidur lelapku. Segera aku beranjak dari tempat tidurku dan segera mengmbil air wudu. Itulah kebiasaan yang diajarkan oleh kedua orang tuaku. Hidup kami memang tak seberuntung orang kebanyakan dimana mereka bisa berleha leha dan mengandalkan pembantunya.
                “de.. sarapan yuk” suara serak serak basah yang khas itu adalah suara kakakku, namanya Fida. Dia duduk di bangku kelas XII SMA. “Iya kak.. tunggu” jawabku sambil berlari menuju ruang makan. Bersyukur.. saya bisa terlahir di keluarga ini, walau ekonomi keluarga kami tak termasuk kaya, tapi kerukunan ini lebih dari segalanya daripada harta.
Jam telah menunjukan pukul 06.30, itu artinya aku harus segera pergi kesekolah begitu juga kakakku. “Mah, pah, kami berangkat dulu ya” ucap kakakku sambil cium tangan dan akupun mengikuti kakakku. Kami pergi bersama karena sekolah kami searah jaraknyapun tak terlalu jauh.
                Sesampinya disekolah, aku seperti orang asing yang hanya bisa tengak tengok melihat bangunan sekolah yang indah karena inilah awalku masuk disekolah ini sebagai murid baru atau peserta MOPD (mungkin lebih dikenal dengan kata MOS).  Alhamdulilah.. aku bisa bersekolah disini. Siapa yang gak bangga sekolah di sekolah favorit apalagi masuk dengan beasiswa. Jika bukan karena itu, mungkin aku gak akan bisa bersekolah disekolah semegah ini, mana mungkin orang tuaku bisa membiayaiku untuk masuk di sekolah ini.
                “Nida..” aku tengak tengok mendengar teriakan itu, yahh.. itulah namaku Nida Fitriya. Oh ternyata dia Lili, sahabatku. Dia adalah sahabatku dari SD, hidupnya lebih beruntung daripada aku, makannya dia bisa masuk di sekolah ini. Tapi entah mengapa dia seperti tak betah diam dirumah megahnya, sepertinya dia lebih bahagia tinggal dirumah kecilku.
                “teng..teng..teng..” suara loceng itu mengejutkan kami yang sedang berbincang bincang, dan tandanya masuk ke ruangan besar yang padat dengan murid murid baru.”hufh... membosankan” keluhku dalam hati “itu artinya kita harus mendengarkan ocehan kakak kakak kelas yang bikin budek”.
                Berkali kali aku melihat jam tapi rasanya lamaa..banget jam 10.00 tiba. Dengan kesabaran yang luar biasa dan suasana panas yang menimpa kami seruangan kami tetap sabar menanti pukul 10.00 toba. Haduh mana bau keringat lagi. Kakak kakak kelas masih mendih bisa keluar dan menghirup udara segar sekaligus minum minuman dingin. Duuhh.. ngiler rasanya.
                Akhirnya.. “teng..teng..” tanda istirahatpun tiba. Bagai keluar dari penjara, kami langsung keluar dari ruangan itu dan berlari ke kantin. Ternyata penderitaanku belum berakhir. Kami harus antri untuk mendapatkan minuman dingin. Sahabatku tak sabar menunggunya, dan ia mengajakku menunggu di tempat tenduh, yaitu bawah pohon yang rindang.
                Ditempat yang ademm itu dia curhat tentang kehidupannya di rumah. Ya allah.. ternyata kehidupannya tak semanis perjalanan hidupku. Sebelumnya aku mengira orang kaya itu lebih beruntung daripada orang miskin sepertiku. Tapi ternyata aku salah, orang tuanya lebih memikirkan karier daripada anaknya. Aku sedih mendengar curahan hatinya dimana dia makan sendiri karena orang tuanya lebih dulu berangkat ke kantor dan dia jarang berkomunikasi  selain hal-hal penting. Mungkin itu sebabnya ia selalu berkata ” aku ingin sepertimu, seperti keluargamu dan seperti kehidupanmu”. Jadi bisa diambil kesimpulan “kebersamaan lebih mahal daripada harta”.