SEPERTIMU KAWAN
“Allahuakbar..
allahuakbar..” suara adzan telah
berkumandang, sekaligus membangunkan dari tidur lelapku. Segera aku beranjak
dari tempat tidurku dan segera mengmbil air wudu. Itulah kebiasaan yang
diajarkan oleh kedua orang tuaku. Hidup kami memang tak seberuntung orang
kebanyakan dimana mereka bisa berleha leha dan mengandalkan pembantunya.
“de..
sarapan yuk” suara serak serak basah yang khas itu adalah suara kakakku,
namanya Fida. Dia duduk di bangku kelas XII SMA. “Iya kak.. tunggu” jawabku sambil
berlari menuju ruang makan. Bersyukur.. saya bisa terlahir di keluarga ini,
walau ekonomi keluarga kami tak termasuk kaya, tapi kerukunan ini lebih dari
segalanya daripada harta.
Jam telah menunjukan pukul 06.30,
itu artinya aku harus segera pergi kesekolah begitu juga kakakku. “Mah, pah,
kami berangkat dulu ya” ucap kakakku sambil cium tangan dan akupun mengikuti
kakakku. Kami pergi bersama karena sekolah kami searah jaraknyapun tak terlalu
jauh.
Sesampinya
disekolah, aku seperti orang asing yang hanya bisa tengak tengok melihat
bangunan sekolah yang indah karena inilah awalku masuk disekolah ini sebagai
murid baru atau peserta MOPD (mungkin lebih dikenal dengan kata MOS). Alhamdulilah.. aku bisa bersekolah disini.
Siapa yang gak bangga sekolah di sekolah favorit apalagi masuk dengan beasiswa.
Jika bukan karena itu, mungkin aku gak akan bisa bersekolah disekolah semegah
ini, mana mungkin orang tuaku bisa membiayaiku untuk masuk di sekolah ini.
“Nida..”
aku tengak tengok mendengar teriakan itu, yahh.. itulah namaku Nida Fitriya. Oh
ternyata dia Lili, sahabatku. Dia adalah sahabatku dari SD, hidupnya lebih
beruntung daripada aku, makannya dia bisa masuk di sekolah ini. Tapi entah
mengapa dia seperti tak betah diam dirumah megahnya, sepertinya dia lebih
bahagia tinggal dirumah kecilku.
“teng..teng..teng..”
suara loceng itu mengejutkan kami yang sedang berbincang bincang, dan tandanya
masuk ke ruangan besar yang padat dengan murid murid baru.”hufh... membosankan”
keluhku dalam hati “itu artinya kita harus mendengarkan ocehan kakak kakak
kelas yang bikin budek”.
Berkali
kali aku melihat jam tapi rasanya lamaa..banget jam 10.00 tiba. Dengan
kesabaran yang luar biasa dan suasana panas yang menimpa kami seruangan kami
tetap sabar menanti pukul 10.00 toba. Haduh mana bau keringat lagi. Kakak kakak
kelas masih mendih bisa keluar dan menghirup udara segar sekaligus minum
minuman dingin. Duuhh.. ngiler rasanya.
Akhirnya..
“teng..teng..” tanda istirahatpun tiba. Bagai keluar dari penjara, kami
langsung keluar dari ruangan itu dan berlari ke kantin. Ternyata penderitaanku
belum berakhir. Kami harus antri untuk mendapatkan minuman dingin. Sahabatku
tak sabar menunggunya, dan ia mengajakku menunggu di tempat tenduh, yaitu bawah
pohon yang rindang.
Ditempat
yang ademm itu dia curhat tentang kehidupannya di rumah. Ya allah.. ternyata
kehidupannya tak semanis perjalanan hidupku. Sebelumnya aku mengira orang kaya
itu lebih beruntung daripada orang miskin sepertiku. Tapi ternyata aku salah,
orang tuanya lebih memikirkan karier daripada anaknya. Aku sedih mendengar curahan
hatinya dimana dia makan sendiri karena orang tuanya lebih dulu berangkat ke
kantor dan dia jarang berkomunikasi
selain hal-hal penting. Mungkin itu sebabnya ia selalu berkata ” aku
ingin sepertimu, seperti keluargamu dan seperti kehidupanmu”. Jadi bisa diambil
kesimpulan “kebersamaan lebih mahal daripada harta”.
